top of page

Intelligence

  • Jun 30, 2016
  • 5 min read

Halo sob, jadi ini artikel pertama gue tentang science. Jadi ceritanya nih, beberapa waktu lalu pas gue buka-buka facebook gue nemu nih interview antara Stephen Hawking sama Lary King. Tau kan siapa itu Stephen Hawking? Kalau masih belum tau silahkan cari-cari di Wikipedia atau Google. Nah dalam salah satu pertanyaan dalam interview Stephen Hawking, beliau ditanya soal Artificial Intelligence (AI).

Intelligence atau dalam bahasa Indonesia adalah kecerdasan. Semua orang pastinya memiliki kecerdasannya masing-masing. Tapi, dalam artikel ini gue bakal bahas seberapa pahamnya kita para manusia akan kecerdasan itu. Sebelumnya gue udah ngelakuin survei kecil-kecilan nih, jadi gue nanyain beberapa temen gue beberapa pertanyaan. Pertanyaannya adalah :

1. Apa itu kecerdasan?

Nah menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kecerdasan adalah

Next, menurut hasil survei gue kesimpulan dari 5 orang yang gue tanyai menyatakan bahwa kecerdasan itu merupakan suatu kemampuan yang ada dalam diri kita terhadap sesuatu. Jadi kalau kalian bisa main alat musik gitu kalian punya kecerdasan (bukan dimainin doang, tapi bisa jadi nada yang enak didenger).

Sekarang, karena gue buat artikel ini terinspirasi dari Stephen Hawking boleh dong ya gue paparin menurut dia apa itu kecerdasan. Menurut Stephen Hawking nih Intelligence is the ability to adapt to change. Bisa dibandingin nih sama statement diatas, ternyata menurut Stephen Hawking kecerdasan bukan sekedar kemampuan kalian menguasai sesuatu (bisa main alat musik, olahraga,dll) tapi kemampuan kalian dalam beradaptasi untuk suatu perubahan. Perubahan apa? Ya mungkin perubahan masa, kalian pasti pernah denger kan tentang seleksi alam di teori evolusi. Jadi, dinosaurus ga bisa bertahan sampai sekarang karena gak bisa adaptasi? Ya gak tau juga ya, tapi menurut gue sih iya. Menurut gue dinosaurus ini gak bisa menerima keadaan alam zaman itu secara fisik, mangkanya kebanyakan spesiesnya punah, tapi menurut penelitian ternyata ada yang bisa bertahan berarti dia bisa beradaptasi atau pas zaman itu juga dia sudah berevolusi jadi kesempatan hidupnya lebih tinggi.


2. Hewan punya kecerdasan tidak?­


Hewan punya kecerdasan nggak ya? Menurut survei gue, 3 dari 5 orang yang gue tanyai jawab kalau hewan punya kecerdasan. Jadi, sebenernya hewan punya nggak sih?


Jadi, dahulu kala itu muncul spekulasi tentang hewan itu memiliki pikiran atau nggak. Nah dari spekulasi ini terus bertahap jadi sebuah penelitian ilmiah setelah Darwin menempatkan manusia dan hewan dalam sebuah kontinum, penelitian ini terus berkembang mulai dari yang subjektif sampai yang objektif. Akhirnya hingga sekarang ini disimpulkan bahwa hewan itu punya kecerdasan yang bisa disebut juga insting.


Para ilmuwan telah membagi klasifikasi hewan berdasarkan kecerdasan menjadi 3, yaitu : emosi, pengenalan diri, dan bahasa. Kecerdasan emosi yang dimaksud adalah dimana hewan dapat mengenali emosi dan meresponsnya secara tepat, jadi kalau lo lagi sedih mereka juga memasang ekspresi sedih mereka juga, kecerdasan ini hanya baru ditemukan atau mungkin hanya ada dalam Simpanse. Kecerdasan pengenalan diri, kecerdasan ini ditentukan dengan menghadapkan hewan tersebut dengan cermin. Tidak semua hewan mengenali dirinya dicermin itu, beberapa dari mereka menganggap bahwa yang ada dicermin itu orang lain, contohnya : anjing. Tapi, beberapa hewan berhasil melalui tes itu yang berarti mereka mengenali dirinya, contohnya : lumba-lumba, gajah, orang utan.


Nah sekarang balik lagi ke definisi kecerdasan menurut Stephen Hawking. Kira-kira hewan punya kecerdasan beradaptasi nggak ya? Menurut gue ada tapi cuma beberapa aja. Kenapa? Kalau semua hewan punya kecerdasan beradaptasi pastinya sekarang nggak ada hewan yang berlabel terancam punah atau bahkan punah meskipun label tersebut kebanyakan ulah manusia (penebangan liar,pembakaran hutan,perburuan liar) , yang kedua kalau semua hewan nggak punya kecerdasan beradaptasi pastinya para ilmuwan nggak akan nemuin spesies dari zaman dinosaurus yang masih hidup saat ini.


3. Apa jadinya manusia tanpa kecerdasan?


Udah bosen belum nih? Hehehe.. Part ini kita singkat aja kok karena udah jelas. Manusia tanpa kecerdasan yang kompleks, lengkap, komplit, pastinya nggak bakal seperti sekarang ini. Gue gak bakal bisa nulis artikel ini, bahkan mungkin nggak bakal ada yang namanya peradaban.


4. Setujukah akan terbentuknya Artificial Inteligence (AI)? Kenapa?


Selamat kalian telah memasuki bagian paling rumit :D yak AI singkatan dari Artificial Intelligence dalam bahasa Indonesia kecerdasan buatan. AI ini bikin gempar dunia loh, bahkan Stephen Hawking bapak kita selama artikel ini bahasnya berulang-ulang kali, ada apa sih? Sebelum itu kita kenalan dulu sama AI ya.

AI (Artificial Inteligence) intinya merupakan kecerdasan yang dimasukkan kedalam suatu mesin sehingga dapat melakukan hal-hal yang dapat dilakukan manusia. AI sendiri bahkan bisa dibilang lebih baik daripada kecerdasan alami. AI sebenarnya sudah diperkenalkan sejak awal abad ke-17, kemudian dalam Perang Dunia II juga kita mengenal sosok Alan Turing yang berusaha memecahkan kode Jerman (Enigma) dengan mesin buatanya yang sekarang kita sebut dengan komputer (Film: The Imitation Game). Kemudian tahun 1990’an dibuat komputer permainan catur yaitu Deep Blue yang mengalahkan Garry Kasparov seorang Grandmaster catur berkebangsaan Rusia yang menjadi juara dunia tahun pada tahun 1985-2000 dengan nilai 3,5-2,5.


Ternyata pada zaman dahulu pun AI sudah bisa dibilang canggih, bagaimana dengan saat ini? Mendengar kata AI yang pertama muncul dikepala gue yaitu film Terminator, kalau belum pernah tau coba nonton deh ada 4 sequel dalam film ini dan bener-bener nggambarin AI banget. Film lainnya ada The Matrix, Artificial Intelligence (judulnya emang), dan masih banyak lagi #jadibahasfilm.


Nah menurut hasil survei gue, semua setuju banget sama adanya si AI ini yang kalau gue simpulin menurut mereka dengan adanya AI ini sangat membantu pekerjaan manusia atau bahkan memajukan peradaban. Secara nggak langsung kita memang sudah menggunakan AI untuk pekerjaan kita, gue ngetik artikel ini juga pakai salah satu AI. Nah masalahnya sejauh mana AI ini sudah dikembangkan, AI sendiri menjadi salah satu objek yang ditakutkan oleh bapak kita Stephen Hawking.


Kita bahas menurut pendapat gue dulu ya. Jadi, gue memang seneng banget nonton film tentang AI. Dari semua film yang pernah gue tonton, gue tau betapa pentingnya AI itu dan juga betapa bahayanya AI. Pasalnya, dari semua film yang aku tonton AI selalu nggak cuman selangkah tapi beberapa langkah lebih jauh dari manusia sehingga secara otomatis jika itu yang terjadi maka manusia tidak lagi mengontrol AI namun sebaliknya. Ini bukannya gue terbawa film ya, tapi karena itu memungkinkan sekali buat terjadi. Gue setuju kalau AI terbentuk dan berkembang, itu bakal membantu tugas-tugas kita banget, asalkan kecerdasan manusia juga ikut berkembang. Nah menurut kenyataan saat ini, AI terus berkembang tapi manusia diam ditempat tidak semakin maju untung-untung masih diam, parah lagi kalau mundur. Jika ini terus terjadi maka seperti yang gue bilang tadi AI bakal nguasai kita.


Beberapa waktu ini Stephen Hawking sering banget kasih wejangan tentang AI, itu kalau lo cari di Google ‘Stephen Hawking Artificial Intelligence’ isinya bener-bener punya dia semua. Dan ternyata nggak cuma Stephen Hawking yang ngingetin kita bahkan Elon Musk (founder SpaceX, Tesla Motors, Solar City) dan Bill Gates (founder Microsoft Corporation) juga. Nah tapi disini kita bakal bahas punya Prof.Hawking aja.


Gue udah bilang diatas bahwa Prof.Hawking ini bener-bener bisa dibilang pengen banget buka pemikiran kita soal AI. Hawking pernah mengungkapkan “The real risk with AI isn't malice but competence," menurut Prof.Hawking jika suatu saat nanti AI akan semakin cerdas dan pasti akan menjadi semakin cerdas maka kita akan menghadapi “intelligence explosion” dimana nantinya mesin tersebut akan menemukan cara/kemampuan untuk membuat dirinya sendiri lebih cerdas bisa dibilang belajar menjadi semakin cerdas dengan sendirinya. Namun meskipun ketakutan Prof.Hawking terhadap AI bisa terbilang cukup besar sehingga memperingatkan kita dan para ilmuwan berulang kali Prof.Hawking mengungkapkan "We are not going to stop making progress, or reverse it, so we have to recognize the dangers and control them" menurutnya kita tidak perlu berhenti membuat perkembangan tapi kita harus menyadari bahaya-bahaya yang bisa ditimbulkan dan cari cara untuk mengendalikannya, Prof.Hawking sendiri yakin bahwa manusia bisa melakukan itu.



So guys, sekian dulu bahasan tentang kecerdasan. Nah tapi ga cuma sampai sini aja gue juga mau tau jawaban-jawaban kalian tentang pertanyaan survei gue, dan kalau lo ada pendapat tentang artikel ini atau apapun itu bisa beri gue komentar.

Let your voice be heard and thank you.

Comments


Featured Review
Check back soon
Once posts are published, you’ll see them here.
Tag Cloud

© 2016 by WesternLife. Proudly created with Wix.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Google+ Icon
bottom of page